https://hidetanakake.com/ Pada Maret 2025, kurs rupiah yang tercatat di Bank Indonesia (BI) sempat ditutup di level Rp 16.588 per dollar Amerika Serikat (AS). Angka ini mendekati level terendah sepanjang sejarah yang mencapai Rp 16.900 per dollar AS pada 17 Juni 1998 (Harian Kompas, 26 Maret 2025). Sorotan dari masyarakat semakin meningkat, dan banyak yang bertanya-tanya apakah pelemahan rupiah saat ini patut dikhawatirkan.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
Tren pelemahan rupiah yang terjadi saat ini sebenarnya merupakan hasil dari kombinasi faktor domestik dan global. Di antaranya, eskalasi ketegangan perdagangan global dan penguatan dollar AS yang mencapai nilai tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Sejak akhir 2024, banyak mata uang dunia mengalami pelemahan terhadap dollar AS. Sementara itu, dollar AS terus menguat akibat pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed dan optimisme terhadap kinerja ekonomi AS. Pada akhir 2024, mata uang ASEAN dan mata uang utama lainnya seperti Euro dan Pound sterling pun mengalami penurunan nilai terhadap dollar AS.
Namun, sejak Januari 2025, tren ini mulai berbalik. Beberapa kebijakan kontroversial dari Donald Trump menimbulkan ancaman terhadap resesi ekonomi AS, yang menyebabkan dollar AS mulai melemah. Meskipun demikian, rupiah masih belum menunjukkan tanda-tanda penguatan yang signifikan.
Mengapa Rupiah Terus Melemah?
Sejak awal tahun 2025, nilai rupiah terhadap dollar AS telah melemah lebih dari 2 persen. Dalam setahun terakhir, pelemahan rupiah tercatat mencapai 4,5 persen (yoy). Di sisi lain, mata uang negara ASEAN lainnya seperti Ringgit Malaysia dan Baht Thailand justru menguat lebih dari 7 persen pada periode yang sama. Salah satu penyebabnya adalah faktor internal domestik, yakni ketidakpastian situasi ekonomi dan politik nasional, yang menurunkan kepercayaan pasar. Hal ini mendorong keluarnya modal asing dari pasar keuangan Indonesia.
Ketidakpastian ekonomi global juga berperan, membuat banyak investor asing memilih untuk berinvestasi di aset yang lebih stabil, seperti emas dan obligasi AS. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan hingga 20 persen dari level tertingginya di September 2024. Tekanan jual di bursa saham turut memperburuk kondisi rupiah.
Dampak Negatif dan Positif Dari Pelemahan Rupiah
Dampak Terhadap APBN dan Ekspor
Pelemahan rupiah memiliki berbagai dampak, baik positif maupun negatif. Di sisi positif, depresiasi rupiah dapat meningkatkan nilai ekspor Indonesia. Produk Indonesia akan lebih murah di pasar internasional, sehingga volume dan nilai ekspor berpotensi meningkat. Ini akan menguntungkan penerimaan negara dari sektor pajak penghasilan (PPh) dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor migas.
Namun, dampak negatifnya terletak pada utang pemerintah. Pelemahan rupiah membuat belanja pemerintah untuk melunasi cicilan pokok dan bunga utang luar negeri menjadi lebih mahal. Hal ini akan mengurangi ruang fiskal untuk membiayai kebutuhan belanja lainnya, yang pada gilirannya dapat memperburuk defisit anggaran.
Dampak Terhadap Sektor Energi dan Subsidi
Selain itu, belanja subsidi energi juga akan melonjak akibat mahalnya harga impor minyak dan gas yang dipicu oleh pelemahan rupiah. Pada tahun 2018, pelemahan rupiah menyebabkan subsidi energi membengkak dua kali lipat, dengan realisasi belanja subsidi mencapai Rp 97 triliun, jauh melebihi anggaran yang tercatat di APBN.
Dampak Pada Ekonomi Nasional
Dari sisi ekonomi, ada dampak positif dan negatif akibat depresiasi rupiah. Ekspor dapat tumbuh karena harga barang domestik yang lebih murah di pasar internasional. Dengan demikian, sektor ekspor berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, perang dagang global tetap menjadi faktor yang sangat berpengaruh. Ketegangan perdagangan antara negara-negara besar, seperti AS, China, dan Uni Eropa, dapat memengaruhi pasar ekspor Indonesia.
Selain itu, inflasi dalam negeri berisiko naik akibat harga barang impor yang semakin mahal, yang akan berimbas pada harga barang yang dikonsumsi masyarakat. Indonesia masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap barang-barang impor, termasuk bahan kebutuhan pokok seperti beras. Pada 2024, impor beras tercatat naik hingga 47,38 persen, mencapai 4,52 juta ton.
Sektor Pariwisata: Peluang di Tengah Depresiasi Rupiah
Meskipun ada dampak negatif, sektor pariwisata Indonesia justru dapat diuntungkan dari pelemahan rupiah. Nilai rupiah yang lebih rendah membuat Indonesia menjadi destinasi wisata yang lebih murah bagi turis mancanegara. Pada 2018, jumlah wisatawan mancanegara tercatat meningkat 12,6 persen (yoy) menjadi 15,81 juta orang. Hal ini sebagian besar didorong oleh pelemahan rupiah.
Bagaimana Ke Depan?
Pelemahan rupiah saat ini memang perlu diperhatikan, tetapi tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Kerja sama antara pemerintah dan bank sentral sangat penting untuk menjaga volatilitas nilai rupiah agar tetap terkendali. Kebijakan yang transparan dan bisa membangun kepercayaan investor akan menjadi kunci untuk menghindari sentimen negatif lebih lanjut yang dapat memperburuk kondisi rupiah. Sebaliknya, kebijakan yang tidak jelas dan memicu kepanikan pasar bisa membuat nilai rupiah semakin terpuruk.
Dengan kondisi ekonomi global yang melambat dan arus keluar modal asing yang besar dari negara-negara berkembang, rupiah mungkin akan terus berada dalam tekanan. Namun, selama kebijakan ekonomi yang tepat diterapkan, efek negatif dari pelemahan rupiah bisa diminimalisir dan bahkan bisa menjadi peluang bagi sektor-sektor tertentu, seperti pariwisata dan ekspor.
Artikel ini mengulas dampak dari pelemahan rupiah yang terjadi baru-baru ini, dengan mempertimbangkan faktor-faktor domestik dan global yang mempengaruhinya. Seperti yang terlihat, meskipun ada potensi dampak negatif, ada juga peluang yang bisa dimanfaatkan jika situasi ini dikelola dengan baik.